Senin, 30 Maret 2015

Teori Sistem Dunia

Teori sistem dunia muncul sebagai kritik atas teori modernisasi dan teori dependensi. Immanuel Wallerstein memandang bahwa dunia adalah sebuah sistem kapitalis yang mencakup seluruh Negara di dunia tanpa kecuali. Sehingga, integrasi yang terjadi lebih banyak dikarenakan pasar(ekonomi) daripada kepentingan politik. Dimana ada dua atau lebih Negara interdependensi yang saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan seperti food, fuel, and protection. Juga, terdapat satu atau dua persaingan politik untuk mendominasi yang dilakukan untuk menghindari hanya ada satu Negara sentral yang muncul ke permukaan selamanya.

Menurut Wallerstein, dunia terlalu kompleks jika hanya dibagi atas 2 kutub (Negara pusat dan Negara pinggiran) karena pada kenyataannya terdapat Negara-negara yang tidak termasuk dalamdua kategori itu. Ada Negara yang tidak bisa digolongkan menjadi Negara pusat ataupun Negara pinggiran. Menurut Wallerstein, sistem dunia kapitalis dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu negara core atau pusat, semi-periferi atau setengah pinggiran, dan negara periferi atau pinggiran.

Perbedaan bagi ketiga jenis negara ini adalah kekuatan ekonomi dan politik dari masing-masing kelompok. Kelompok negara-negara kuat (pusat) mengambil keuntungan yang paling banyak,karena kelompok ini dapat memanipulasi sistem dunia sampai batas-batas tertentu dengankekuatan dominasi yang dimilikinya. Kemudian negara setengah pinggiran mengambil keuntungan dari negara-negara pinggiran yang merupakan pihak yang paling dieksploitir. Munculnya Negara semi pinggiran oleh Wallerstein dikarenakan pemikiran jika hanya terdapat 2 kutub di dunia yaitu Negara pusat dan pinggiran saja, maka disintegrasi akan muncul dengan mudah dalam sistem dunia itu. Sehingga, Negara semi pinggiran dinilai akan menghindari disintegrasi tersebut. Kemudian, Negara semi pinggiran juga dinilai bisa menjadi iklim ekonomi baru. Para pemilik modal bisa memindahkan modalnya dari tempat yang sudah tidak lagi efisien ke tempat baru yang sedang tumbuh. Hal ini karena di negara pusat yang sebelumnya merupakan ekonomi unggul mengalami penurunan atau kehilangan keuntungan biaya komparatif sebagai akibat meningkatnya upah yang terus menerus karena eksploitasi buruh di Negara-negara pinggiran. Penekanan pada teori ini adalah, Negara-negara di dunia bisa naik dan juga bisa turun kelas. 

Negara pusat bisa saja menjadi Negara semi pinggiran, Negara semi pinggiran bisa menjadi Negara pusat atau Negara pinggiran, dan Negara pinggiran bisa menjadi Negara semi pinggiran. Hal ini terbukti pada Perang Dunia II, Inggris dan Belanda yang sebelumnya menjadi Negara pusat turun kelas digantikan Amerika Serikat pasca kehancuran dahsyat di Eropa. Wallerstein merumuskan tiga strategi bagi terjadinya proses kenaikan kelas, yaitu:Kenaikan kelas terjadi dengan merebut kesempatan yang datang.

Kenaikan kelas terjadi melalui undangan. Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan industriraksasa di negara-negara pusat perlu melakukan ekspansi ke luar dan kemudian lahir apa yang disebut dengan MNC. Akibat dari perkembangan ini, maka muncullah industri-industri dinegara-negara pinggiran yang diundang oleh oleh perusahaan-perusahaan MNC untuk bekerjasama. Melalui proses ini maka posisi negara pinggiran dapat meningkat menjadi setengah pinggiran. Kenaikan kelas terjadi karena negara menjalankan kebijakan untuk memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani melepaskan dirinya darieksploitasi negara-negara yang lebih maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan- perusahaan asing.

Namun demikian, semuanya ini tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya, peluang dari sistem dunia memang ada. Jika tidak, mungkin dapat saja gagal.

Sumber : Sumber : Suwarsono, Alvin Y. So. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia: Teori-teori Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia.

Teori Ketergantungan

Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Negara-negara pinggiran yang pra-kapitalis merupakan negara-negara yang tidak dinamis, yang memakai cara produksi Asia yang berlainan dengan cara produksi feodal Eropa yang menghasilkan kapitalisme. Negara-negara pinggiran ini, setelah disentuh oleh kapitalis maju, akan bangun dan berkembang mengikuti jejak negara-negara kapitalis maju. Namun terdapat kritikan mengenai teori tersebut, bahwa negara-negara pinggiran yang pra-kapitalis mempunyai dinamika sendiri yang bila disentuh oleh negara-negara kapitalis maju, akan berkembang secara mandiri.
Justru karena negara-negara kapitalis maju ini perkembangan negara-negara pinggiran menjadi terhambat. Dos Santos menguraikan 3 bentuk ketergantungan:


1. Ketergantungan Kolonial

Terjadi penjajahan dari negara pusat ke negara pinggiran. Kegiatan ekonominya adalah ekspor barang-barang yang dibutuhkan negara pusat. Hubungan penjajah – penduduk sekitar bersifat eksploitatif.


2. Ketergantungan Finansial-Industrial:

Negara pinggiran merdeka tetapi kekuatan finansialnya masih dikuasai oleh negara-negara pusat. Ekspor masih berupa barang-barang yang dibutuhkan negara pusat. Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui kerjasama dengan pengusaha lokal.


3. Ketergantungan Teknologis-Industrial:

Bentuk ketergantungan baru. Kegiatan ekonomi di negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk negara pusat. Perusahaan multinasional mulai menanamkan modalnya di negara pinggiran dengan tujuan untuk kepentingan negara pinggiran.


Meskipun demikian teknologi dan patennya masih dikuasai oleh negara pusat. Dos Santos membahas juga struktur produksi dari sebuah proses industrialis, bahwa:


1) Upah yang dibayarkan kepada buruh rendah sehingga daya beli buruh rendah.


2) Teknologi padat modal memunculkan industri modern, sehingga :
Menghilangkan lapangan kerja yang sudah ada. Menciptakan lapangan kerja baru yang jumlahnya lebih sedikit. Larinya keuntungan ke luar negeri membuat ketiadaan modal untuk membentuk industri nasional sendiri. Oleh sebab itu, kapitalisme bukan kunci pemecahan masalah melainkan penyebab munculnya masalah ini.

Teori ketergantungan pada dasarnya menyetujui, bahwa yang menjadi penyebab ketergantungan adalah kekurangan modal dan kurangnya tenaga ahli. Tetapi faktor penyebabnya adalah proses imperialisme dan neo imperialisme yang menyedot surplus modal yang terjadi di negara pinggiran ke negara pusat. Akibat pengalihan surplus ini, negara pinggiran kehilangan surplus utama yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah proses global yang sama. Proses global ini merupakan proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan yang lain, menyebabkan lahirnya keterbelakangan.

Sumber : Suwarsono, Alvin Y. So. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia: Teori-teori Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia.

Senin, 23 Maret 2015

Teori A-B-X Newcomb

Model Newcomb merupakan salah satu model yang memperkenalkan kita pada bentuk yang secara mendasar berbeda. Model ini bentuknya segitiga. Namun, signifikansi utama model ini terkait dengan kenyataan bahwa ini merupakan model pertama yang memperkenalkan pada peran komunikasi dalam suatu masyarakat atau dalam relasi sosial. Bagi Newcomb, peran itu sederhana saja – menjaga keseimbangan dalam sistem sosial.



Komponen minimal sistem ABX adalah sebagai berikut:
 Hasil gambar untuk teori komunikasi abx newcomb



Orientasi A terhadap X termasuk sikap baik terhadap X sebagai objek untuk didekati atau dihindarkan maupun terhadap ciri-ciri kognitif.
Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama.
Orientasi B terhadap X.

Orientasi B terhadap A.

Cara kerja model ini adalah sebagai berikut: A dan B adalah komunikator dan penerima, mereka bisa saja para individu, atau manajemen dan serikat kerja, atau pemerintah dan rakyat. X adalah bagian dari lingkungan sosial mereka. ABX adalah sebuah sistem, yang berarti relasi internalnya saling bergantung: Bila A berubah, maka B dan X pun akan berubah; atau bila A merubah relasinya pada X, maka B pun akan mengubah relasinya baik pada X maupun pada A.

Bila A dan B adalah sahabat, dan X adalah sesuatu atau seseorang yang dikenal keduanya, maka akan menjadi penting A dan B memiliki sikap yang mirip terhadap X. Bila itu yang terjadi, maka sistem akan berada dalam keseimbangan. Namun bila A menyukai B sedangkan B sebaliknya pada A, maka A dan B akan berada di bawah tekanan untuk berkomunikasi. Hal yang sangat penting adalah tempat X di dalam lingkungan sosialnya, dan yang mendesak adalah dorongan keduanya untuk berbagi orientasi terhadapnya.

Teori Sistem A-B-X dari Newcomb

Sistem A-B-X dari Newcomb merupakan perluasan dari teori intrapribadi dari Heider yang terjadi antara anggota kelompok yang hanya terdiri dari 2 orang. Model ini mengandung 3 unsur, yaitu A dan B yang mewakili 2 orang anggota kelompok dan X sebagai objek pembicaraan (komunikasi). Menurut Newcomb, tingkah laku komunikasi terbuka antara A dan B dapat dijelaskan melalui kebutuhan mereka untuk mencapai keseimbangan antara satu sama lain dan juga terhadap X. Komunikasi terjadi karena A harus berorientasi pada B, pada X dan orientasi B pada X. Untuk mencari keadaan yang simetris, A berusaha untuk melengkapi dirinya dengan informasi tentang orientasi B pada X dan ini dilakukan melalui interaksi. A mungkin terdorong untuk mempengaruhi orientasi B pada X apabila menemukan keadaan yang tidak seimbang diantara mereka. Dan sebaliknya B pun terdorong untuk mempengaruhi orientasi A. Besar pengaruh A dan B terhadap satu sama lain dan kemungkinan usaha masing-masing dalam meningkatkan keadaan simetris melalui tindakan komunikasi akan meningkat pada saat daya tarik.

Daftar pustaka : Teori Komunikasi (Perspektif, Ragam, dan Aplikasi), H. Syaiful Rohim, M.Si.


Regards,
MeinarPradita

Teori Perbandingan Sosial

Teori ini di kemukakan oleh Festinger (1950, 1954). Pada dasarnya teori ini berpendapat bahwa proses saling mempengaruhi dan perilaku saling bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri (self evaluation) dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan memebandingkan diri dengan orang lain.

Teori ini dimulai dari efek komunikasi sosial yang selanjutnya diperluas meliputi evaluasi, baik evaluasi kemampuan (abilities) maupun evaluasi opini. Teori yang berorientasi kognitif ini mempunyai dasar bahwa proses pengaruh social berkaitan dengan perilaku kompetitif (competitive behavior) yang tertuju pada kebutuhan untuk evaluasi diri,dan untuk evaluasi ini, orang mendasarkan diri pada perbandingan dengan orang lain (comparison with other persons). Jadi, ada dua hal yang di perbandingkan dalam hubungan ini. Yaitu : 
a.    Pendapat (opinion)
b.    Kemampuan (ability)

    Walaupun proses perbandingan untuk kedua hal tersebut sama yaitu untuk evaluasi opini dan evaluasi kemempuan, ada perbedaan yang sangat penting diantara keduanya yaitu, pertama, adanya dorongan yang sifatnya ke arah yang lebih baik dan secara satu arah ada kemampuan dan tidak terdapat pada opini atau kemempuan yang lebih tinggi, contoh Nisa hanya mampu mendapat nilai 75 dalam materi psikologi social sedangkan Joule mampu mendapatkan nilai 90. Dalam membandingkan dirinya (pihak ketiga) dengan Nisa dan Joule, ia harus meningkatkan kemampuan belajarnya agar bisa mendekati kemampuan Joule. Baik pihak ketiga ataupun Joule tidak mementingkan dan memikirkan kemungkinan bahwa Joule menurunkan kemampuannya untuk mendekati nilai Nisa. Tetapi perbandingan yang pertama ini tidak terdapat pada perbandingan antar pendapat, karena jika pendapat Nisa berbeda dengan pendapat Joule, bisa saja Joule mengubah pendapatnya agar mendekati pendapatnya Nisa ataupun sebaliknya.  Kedua, perubahan opini relative lebih mudah apabila dibandingkan dengan performansi atau perubahan pada kemampuan. Seperti contoh di atas Joule akan sulit menyamakan nilainya dengan Nisa karena dia berkemampuan lebih pandai, tetapi Ia akan mudah menyatukan pendapatnya dengan Nisa apabila dia memiliki pemikiran atau opini yang sama.

Daftar pustaka : Teori Komunikasi, Little John


Regards,


MeinarPradita

Teori Pertukaran Sosial

Semua Teori Pertukaran Sosial dibangun atas dasar beberapa asumsi sosial mengenai sifat dasar manusia dan sifat dasar hubungan. Asumsi-asumsi yang dibuat oleh Teori Pertukaran Sosial mengenai sifat dasar manusia adalah sebagai berikut :

  • Manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman.
    Pemikirsan bahwa manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman sesuai dengan konseptualisasi dari pengurangan pendorongan (Roloff, 1981). Pendekatan ini berasumsi bahwa perilaku orang dimotivasi oleh suatu mekanisme dorongan internal. Ketika orang merasakan dorongan ini, mereka termotivasi untuk mengurangi, dan proses pelaksanaannya merupakan hal yang menyenangkan.
  • Manusia adalah mahluk rasional.
    Asumsi ini sangatlah penting bagi Teori Pertukaran Sosial. Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa di dalam batasan-batasan informasi yang tersedia untuknya, manusia akan menghitung pengorbanan dan penghargaan dari sebuah situasi tertentu dan ini akan menuntun perilakunya.
  • Standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi pengorbanan dan penghargaan bervariasi seiring berjalannya waktu dan dari satu orang ke orang lainnya.
    Asumsi ketiga menunjukkan bahwa teori ini harus mempertimbangkan adanya keanekaragaman. Tidak ada satu standar yang dapat diterapkan pada semua orang untuk menentukan apa pengorbanan dan apa penghargaan itu.
Thibaut dan Kelly berpendapat bahwa kepuasan kita akan suatu hubungan berakar dari membandingkan penghargaan dan pengorbanan yang ada dalam hubungan itu dengan CL (Comparasion Level) kita. Jika hubungan kita sesuai atau bahkan melebihi CL kita, teori ini memprediksikan bahwa kita akan merasa puas dengan hubungan tersebut. Akan tetapi, orang meninggalkan hubungan yang memuaskan dan tetap tinggal di dalam hubungan yang tidak memuaskan.


Selain mempelajari bagaimana orang menghitung hasil akhir hubungan mereka, Thibaut dan kelley juga tertarik mengamati bagaimana orang menyesuaikan perilaku mereka dalam interaksi mereka dengan pasangan mereka dalam suatu hubungan. Thibaut dan Kelley berasumsi bahwa ketika orang berinteraksi, mereka dituntun oleh tujuan. Hal ini kongruen dengan asumsi mereka bahwa manusia adalah mahluk rasional.

Thibaut dan Kelley menyatakan bahwa orang yang mengembangkan pola-pola pertukaran untuk menghadapi perbedaan kekuasaan dan untuk mengatasi pengorbanan yang diasosiasikan dengan penggunaan kekuasaan. Pola-pola ini mendeskripsikan aturan perilaku atau norma yang menunjukkan bagaimana orang memperdagangkan sumber daya dalam rangka memaksimalkan penghargaan dan meminimalkan pengorbanan.


Struktur Pertukaran

Dalam pertukaran langsung (direst exchange), timbal balik dibatasi pada kedua aktor yang terlibat. Sedangkan pertukaran tergeneralisasi (generalized exchange) melibatkan timbal balik yang bersifat tidak langsung. Akhirnya, pertukaran dapat bersifat produktif, yaitu kedua aktor harus saling berkontribusi agar keduanya memperoleh keuntungan. Dalam pertukaran langsungatau tergeneralisasi, satu orang diuntungkan oleh nilai yang dimiliki oleh orang lainnya. Dalam pertukaran produktif (productive exchange), kedua orang mengalami pengorbanan dan mendapatkan pengorbanan secara stimultan.

Daftar Pustaka : Pengantar Teori Komunikasi : Analsis dan Aplikasi, Richard West&Lynn Turner


Regards,
MeinarPradita

Teori Disonansi Kognitif

Teori Disonansi Kognitif adalah penjelasan mengenai bagaimana keyakinan dan perilaku merubah sikap. Teori ini berfokus pada efek inkonsistensi yang ada diantara kognisi-kognisi. Jadi begini maksudnya, apabila sikap kita tidak bisa membuat yakin seseorang saat berkomunikasi, maka individu/kelompok yang kita ajak komunikasi tidak bisa percaya atas apa yang kita komunikasikan. Teori ini mempunyai empat asumsi dasar :
  • Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya. asumsi pertaa menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi.
  • Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi psikologis. Asumsi kedua berbicara mengenai jenis konsistensi yang penting bagi orang. Teori ini tidak berpegang pada konsistensi logis yang kaku.
  • Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur. Asumsi ketiga dari teori ini menyatakan bahwa ketika orang mengalami inkonsistensi psikologis disonansi yang tercipta menimbulkan perasaan tidak suka.
  • Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi. Akhirnya, teori ini mengasumsikan bahwa rangsangan ayng diciptakan oleh disonansi akan memotivasi orang untuk menghindari situasi yang menciptakan inkonsistensi dan berusaha mencari situasi yang mengembalikan konnsistensi
Banyak penelitian yang berawal dari penelitian Festinger berfokus pada persuasi terutama yang berhubungan dengan pengambil keputusan, Beberapa studi mempelajari mengenai penyesalan pembeli (a buyer's remorse), yaitu disonansi yang dialami setelah memutuskan pembelian yang besar. Baru-baru in, beberapa peneliti mempelajari mengenai hubungan disonansi dengan strategi komunikasi pada situasi selain pengambilan keputusan, Patrice Buzzanell dan Lynn Turner (2003) mempelajari mengenai komunikasi keluarga pada keluarga-keluarga di mana pencari nafkah telah kehilangan pekerjaan mereka dalam 18 bulan terakhir.
Buzzanel&Turner mengamati bahwa kehilangan pekerjaan menciptakan perasaan disonansi pada hampir semua anggota keluarga, dan para peneliti berpendapat bahwa anggota keluarga mengurangi disonansi mengenai kehilangan pekerjaan dengan menggunakan 3 strategi menarik. Pertama, keluarga mengadopsi perasaan bahagia. Kedua, keluarga tersebut secara sengaja memajukan tema-tema positif&menyingkirkan yang negatif. Ketiga, keluarga-keluarga ini mempertahankan pembentukan identitas gender, dan berusaha untuk meyakinkan si pria yang kehilangan pekerjaan bahwa dia tetap kepala keluarga.
Satu kelemahan berhubungan dengan komplain para kritikus Bahwa disonansi mungkin bukan merupakan konsep yang paling penting untuk menjelaskan perubahan sikap. Meskipun Teori Disonansi Kognitif memiliki keterbatasan, teori ini menawarkan pandangan baru ke dalam hubungan antar sikap, kognisi, emosi, dan perilaku, dan teori ini menyarankan suatu metode untuk mengubah sikap dan persuasi.

Daftar Pustaka : Pengantar Teori Komunikasi : Analsis dan Aplikasi, Richard West&Lynn Turner


Regards,
MeinarPradita

A New Update(s)

Hallo, blogsky!dah lama banget ngga nge post trakhir waktu mau lulus sma ya hahaha. It's my 2nd year at college, which means gue semester 4. Yha, Meinar Pradita sekarang kuliah semester 4 di Universitas Prof. Dr. Moestopo(Beragama), yay-ness. Karena males aktifin blog SMA yang suka gue pake buat nugas, udah lupa juga sih passwordnya so, check my new post(s). Ya itung-itung belajar komunikasi sedikit, bukan ?;)


Regards,
MeinarPradita. Xoxo